Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Lembaga Mahasiswa Kuantitas atau Kualitas?

Posted by Amhy Jumat, 27 Desember 2013 1 comments
Oleh Amiruddin

Seiring perjalanan sejarah kelembagaan mahasiswa khususnya lembaga kemahasiswaan baik di tingkat universitas maupun tingkat fakultas yang kita kenal sebagai wadah dan ruang aspiratif untuk para kaum-kaum intelektual dengan berbeda latar berkumpul untuk belajar, berbagi ilmu, pengalaman dan melatih softskill, serta berpegang teguh terhadap ideologi-ideologi yang bersifat solutif untuk berbagai permasalahan-permasalahan sosial dan terkhusus dalam dunia kampus.
Namun kini seakan termakan oleh dinamika perkembangan zaman yang semakin hari menyayat sedikit demi sedikit dari setiap sendi-sendi dunia kelembagaan mahasiswa. Hari ini boleh dikatakan lembaga mahasiswa mulai kehilangan orientasi akan visinya sebagai sebuah hakikat terbentuknya sebuah lembaga. Ketika kita bercermin terhadap pergerakan-pergerakan lembaga mahasiswa masa orde baru hingga reformasi yang telah melalui jalan yang panjang hingga saat ini sangatlah jauh berbeda dari segi orientasi terbentuknya, hingga proses, dan metode untuk mempertahankan eksistensi dari sebuah lembaga.
Disamping pengaruh modernisasi saat ini kelembagaan mahasiswa tidak dapat dinafikkan bahwa banyak lembaga-lembaga mahasiswa yang terbentuk secara instan dan mengatasnamakan mahasiswa, begitupun yang sudah ada sejak dulu kehilangan arah dan tujuan sebagaimana mestinya. Ini semua terjadi karena pergeseran paradigma oleh mahasiswa akan urgensinya dalam berlembaga. Timbulnya tipologi-tipologi mahasiswa yang bersifat opurtunis dan pragmatis. Dibalik semua itu orientasi terbentuknya sebuah lembaga terkadang hanya untuk kepentingan-kepentingan segelintir orang yang berusaha mengumpulkan massa untuk mewujudkan hasrat kekuasaan yang bersifat materil dan individualis. Sehingga menghalalkan segala cara untuk mempertahankan eksistensinya. Mulai dari sistem rekruitmen kader yang tidak lagi memprioritaskan kualitas, sehingga menimbulkan suasana kompetitif untuk penggemukan anggota setiap lembaga, hingga sistem doktrinasi terhadap kader atau pun pengurus dengan memanfaatkan kemampuan retorika yang bersifat agitatif. Begitupun dengan program-program yang dijalankan lebih mendominasi kegiatan-kegiatan yang lebih bersifat event organizing dan ceremonial belaka.
Efektivitas jalannya roda organisasi atau lembaga tidak dapat dipungkiri bahwa sistem kaderisasi sangatlah urgen untuk kontinuitas lembaga dalam jangka panjang, akan tetapi dengan keberadaan kuantitas dengan minimnya kualitas kader sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah lembaga menjadi sebuah boomerang yang akan menghancurkan lembaga mahasiswa secara perlahan tapi pasti. Seringnya terjadi perselisihan atau pun sengketa antar lembaga mahasiswa salah satu faktor tidak berkualitasnya anggota ataupun pengurus dalam mengelolah lembaga, internalisasi nilai-nilai dalam berlembaga kurang tersosialisasikam dengan baik, sehingga perencanaan dan pelaksanaan program tidak berjalan optimal. Ini semua menjadi benih-benih timbulnya konflik, misalnya ada angggota dari lembaga x yang melakukan tindakan yang mengancam nama baik lembaga kemudian mengatasnamakan dirinya dari lembaga lain sebagai bentuk penyelamatan lembaganya, ketidakprofesionalan anggota atau pun pengurus juga bisa menjadi pemicu konflik internal ataupun eksternal dalam lembaga. Yang seharusnya lembaga-lembaga kemahasiswaan tingkat universitas, fakultas ataupun lembaga eksternal lainnya adalah mitra untuk pencapaian visi secara bersama-sama bukannya menjadi lawan dalam perebutan anggota demi penggemukan jumlah anggota masing-masing lembaga dengan mengeyeampingkan kualitasnya. Itulah dinamika dalam berlembaga yang tidak akan menjadi alasan untuk menutup ruang memikirkan konsep-konsep yang lebih inovatif dan revolusioner untuk tatanan kelembagaan mahasiswa sebagaimana yang kita harapkan.
Saat ini untuk pemikir-pemikir lembaga yang modern seharusnya tidak lagi memikirkan akan kuantitas, walaupun itu sangat penting yang jelas ada keselarasan dengan kualitasnya. Bung Karno misalnya yang cuma membutuhkan sepuluh orang pemudah saja untuk mengguncang dunia setidaknya memperjelas bahwa kualitas jauh lebih urgen dalam membangun dan mempertahankan sebuah ideologi khususnya wadah perkumpulan misalnya lembaga mahasiswa. Walaupun hanya beberapa orang yang mempunyai keinginan besar dan dasar yang kuat untuk memperjuangkan sebuah kebenaran semuanya bisa dilakukan. Efisiensi SDM, konsistensi, dan loyalitas dan partisipasi aktif dalam berlembaga dapat menjadi pendongkrak untuk memudahkan pencapaian tujuan dari berlembaga dan dapat meminimalisir konflik-konflik internal lembaga ataupun konflik antar lembaga. Sehingga terjadi keharmonisan baik antar anggota dan pengurus begitupun antara lembaga yang satu dengan lainnya, demi terciptanya sebuah ruang yang ideal yang mampu menampung dan menyelesaikan masalah.

Amiruddin
Menteri Komunikasi dan Informasi BEM Fakultas Hukum Univesitas Hasanuddin periode 2012-2013
Read More..

IDENTITAS MAHASISWA

Posted by Amhy Kamis, 08 Agustus 2013 1 comments

Bunda relakan darah juang kami

Tuk bebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti





Kutipan lirik lagu perjuangan yang diciptakan oleh Andi Munajat Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, tersebut mengiringi mahasiswa ketika menuntut hak rakyat kecil di tepi jalan,dengan suara lantang dan menggugah semangat juang bagi yang menyanyikannya, itulah  salah satu yang dinamakan sebuah pergerakan mahasiswa untuk bangsa yang tertindas.

Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab VI bagian ke empat pasal 19, Mahasiswa adalah sebuah sebutan akademis untuk siswa/murid yang telah sampai pada jenjang pendidikan tertentu dalam masa pembelajarannya. Kata “Maha” berarti tinggi, paling, sementara “Siswa” berarti pelajar, subjek (bukan objek) pembelajaran. Begitu singkatnya bila diartikan secara harfiah. Sehingga dalam pengertian dari segi bahasa, Mahasiswa lebih kurang bearti pelajar yang tinggi (dalam hal ilmu) atau pelajar yang telah mencapai jenjang pendidikan tinggi (Universitas).

A. Definisi Mahasiswa 

Definisi adalah batasan
Definisi dari definisi adalah batasan dari suatu batasan

IDENTITAS = ciri yang membedahkan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya
MAHASISWA= seseorang yang sudah tedaftar di perguruan tinggi negri maupun swasta dan memliki haK dan kewajiban dan mengikuti semester berjalan  dalamdan dapat di buktikan secara adimistrasi.
Identitas mahasiswa adalah sesorang yang sudah terdaftar di perguruan tinggi  baik swasta maupun negri yang memiliki hak dan kewajiban dan memiliki ciri suatu yang membedahkan  sesuatu dengan suatu yang lain.

Ciri –ciri mahasiswa :
R-rasional=masuk akal
   Contoh=memikir kan sesuatu yang masuk akal
A-analisis=menganalisa
  Contoh=ketika ada hitam ada putih ketika ada yin berarti ada yan jika kalau ada tdk ada abadi berarti ada yang abadi?abadi itu seperti apa si?(ROH)
K-kristis=mengeritik
  Contoh=mengeritik (tidak sepaham)
U-universal=umum/menyeluruh (luas)
  Contoh=pergaulan sehari-hari atau bersosialisai dan tidak mementikan diri sendiri
S-sitematis=menyusun secara rapi/tersusun
  Contoh= dari   A-Z
C-cekat.mampu melihat
  Contoh= menyaksikan secara langsung
I-inovatif-kreatif
  Contoh=mampuh berkrya dalam bidang ke ilmuan (bikin karangan sendiri)
U-ulet-tangguh/pantang menyerah
  Contih=tidak mudah menyerah dalam menghadapi apa pun.
M-motifatif-orang yang  memiliki arah tujuan.
  Contoh=orang yang ingin sukses dan memiliki cita-cita sentinggi langit

Perana mahasiswa 
Agent of Sosial control =  pengontrol dalam masyarakat
Agent of change = agen perubahan

Secara umum, mahasiswa memiliki tiga peran pokok yakni:
- peran moral,
- peran sosial,
- peran intelektual.

Kesuksesan mahasiswa
- Akademis (mulai masuk kampus)
- Organisasi (tempat atau wadah berkumpul melebihi satu orang dan memiliki tujuan yang sama)
- Romantisme (ekstra atau hasrat)

Sifat mahasiswa sekarang
- Akademis (Kuliah Kampus)
- Organisatoris (Aktif Organisasi)
- Apatis  (cuek atau acuh tak acuh)
- Prakmatis (Instan, praktis, suka copas)
- Hedonis (kesenagan semata, hura-hura)
- Opurtunis (Mencari keuntungan)

Mahasiswa yang sering  disebut sebagai komunitas terdidik, cerdas, memiliki berbagai keterampilan dan bervisi masa depan, dituntut kiprah dan peran positifnya di tengah kehidupan masyarakat.

Dengan ”segudang atribut“ yang melekat pada dirinya, mahasiswa sering dijadikan “simbol” akan berbagai harapan dan perubahan. Ia dituntut mewakili setiap keinginan masyarakat yang kadang tidak tersalurkan dengan baik. 

Mahasiswa juga diharapkan menjadi pembela sekaligus penyambung lidah dari berbagai bentuk diskriminasi serta ketidakadilan yang dialami masyarakat, dan yang teramat penting adalah dipundak mahasiswa nantinya diletakkan harapan akan terciptanya kehidupan yang lebih baik dari yang dirasakan hari ini.

Mengingat mahasiswa berada pada eksistensinya sendiri sekaligus dengan cirinya sendiri. Sebagai sosok yang bergelut didunia akademisi maka sepantasnya setiap ucapan dan tindakannnya tidak saja berwawasan Ilmiah tetapi di dalamnya termuat nilai kejujuran, keadilan dan kemanusiaan. Dengan kapasitas intelektualnya dan pengasahan daya nalarnya maka sosok mahasiswa harus mampu menganalisa sekaligus menelaah setiap persoalan yang muncul kepermukaan, apakah di dalam kampusnya sendiri maupun diluar kampus  dan pada saat yang sama dapat memberi jawaban yang argumentatife dan bertanggung jawab.

Dalam perjalanan masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia, dalam setiap dinamika kehidupan yang senantiasa bergerak maju mengikuti perkembangan zaman, maka kiprah dan peran Mahasiswa senantiasa memberi ruang bagi terjadinya perubahan. Di Indonesia misalnya terutama setelah kemerdekaan, peran Mahasiswa begitu dominan dalam melakukan kontrol sosial yang tujuannya adalah bagaimana terciptanya kehidupan yang lebih baik dan kondusif.

Dengan demikian, bagi seorang mahasiswa dengan daya nalar dan kapasitas intelektualnya, seyogyanya dapat mengantar dirinya untuk menemukan jati dirinya yang paripurna yaitu sosok yang cerdas yang memiliki kepekaan sosial, mampu membaca dinamika dari alur kehidupan yang berkembang di tengah kompleksitas kehidupan masyarakat, untuk selanjutnya dapat memberi jalan keluar dari setiap problem kehidupan yang terjadi.

Mahasiswa yang Ideal
Penulis menyadari bahwa membuat format yang disepakati tentang sosok Ideal Mahasiswa adalah sebuah kemustahilan, Hal ini terutama karena pandangan dan harapan yang ditujukan kepada mahasiswa begitu banyak dan beragam, juga karena dinamika dan Mahasiswa bergerak begitu cepat. Karena itu, kesepahaman tentang prinsip-prinsip umum yang dimiliki oleh mahasiswa mungkin dapat dijadikan rujukan, setidak menilai sosok mahasiswa yang “dianggap” Ideal.

Secara umum dapat dikatakan , mahasiswa adalah bagaian dari generasi muda atau anak bangsa yang menuntut Ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai Identitas Diri. Dengan demikian sejatinya seorang mahasiswa harus tercatat dan aktif dalam pergulatan Dinamika yang dikembangkan perguruan Tinggi dengan segala aturannya, sebagai tempat melakukan olah pikir dan pengasahan daya nalar seperti Berpartisipasi dalam kegiatan kemahasiswaan dan diskusi kemahasiswaan yang bersifat rutin.

Antara perguruan tinggi dengan segala komponennya serta mahasiswa dengan segala atributnya, harus terjalin sikap dan komunikasi dua arah (Andragogy system). Perguruan Tinggi yang diwakili oleh Dosennya dituntut memberikan sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi kiprah dan perjalanan mahasiswanya, dalam hal ini dosen tidak saja memberi pelajaran sekedar memenuhi kebutuhan kurikulum, tetapi bagaimana memberikan rangsangan pemikiran kepada mahasiswanya untuk dapat mengetahui, menelaah, sekaligus menganalisa dinamika kehidupan yang terjadi. Artinya seorang dosen tidak saja “mengajar” atau “mendidik” peserta didiknya tetapi juga dapat menjadi teman diskusi dialog bagi mahasiswanya. Sebaliknya seorang  mahasiswa juga di tuntut aktif memberi masukan dan menggali setiap fenomena yang muncul, terutama karena derasnya perubahan kehidupan.

Dengan demikian, baik perguruan tinggi di satu pihak maupun mahasiswa dari pihak lain telah terjadi akumulasi dan proses pembelajaran yang sedemikian rupa, sehingga keduanya telah tejadi proses saling menerima dan memberi (take and given).

Dengan gambaran singkat di atas dan setelah melalui pengolahan pemikiran yang sedemikian rupa, maka pada diri mahasiswa akan tergambar sikap yang bertanggung jawab, berpihak kebenaran dan berdimensi keadilan. Sikap itu bukan hanya dalam bentuk perilaku tetapi telah menjadi bagian dari identitas yang melekat pada dirinya. Hal inipun berimplikasi pada terjadinya proses peralihan dan penguatan struktur ke cultur, transformasi yang bersifat massif di alihkan menjadi penguatan-penguatan individu. Dalam konteks ini mahasiswa harus dipandang sebagai individu-individu yang otonom dan mempunyai kebebasan untuk berpikir dan mengambil peranan sesuai dengan kecendrungan dan otoritas yang dimilikinya. Dengan demikian perguruan tinggi di maknai sebagai tempat berkumpulnya individu-individu yang merdeka dan independent dengan relasi hubungan dan komunikasi yang cair dan mengurangi kekuatan formalitas yang mengitarinya. Untuk lebih memberi bobot dari sikap dan perilakunya, maka sosok mahasiswa harus memiliki setidaknya empat Identitas yaitu :

Mahasiswa sebagai insan religius
Dengan identitas ini, maka seorang mahasiswa harus memiliki landasan moral yang kuat sebagai manifetasi dan pengejewantahan dari ajaran agama yang di gelutinya. Mahasiswa yang demikian dalam setiap kiprahnya tidak saja dituntut pikiran-pikiran jernihnya tetapi bagaimana aktualisasi dari pikiran itu mendorongnya untuk mendorongnya untuk mengamalkannnya sebagai bagian dari ajaran agama yang menyeru kepada kebajikan serta mencegah kemungkaran  (amar ma’ruf nahi mungkar).

Mahasiswa sebagai insan akademis
Identitas ini harus di pahami sebagai pendorong untuk mengisi diri dengan berbagai kemampuan intelektual. Pengisian ini tidak tebatas pada disiplin ilmu yang digeluti  tetapi juga ilmu lain yang dapat digapai dan membawa manfaat terhadap dirinya maupun orang lain. Pengisian itu juga tidak boleh dibatasi oleh waktu dan ruang akademik saja, tetapi olahan-olahan ilmu harus senantiasa di gali sepanjang kemampuan yang dimiliki. Justru harus di ketahui bahwa ilmu dan bacaan yang tidak pernah kering untuk digali adalah lingkungan dan masyarakat yang ada di sekeliling kita. Mahasiswa sebagai insane akademis juga harus diartikan sebagai sosok yang bebas menentukan sikap, ukurannnya adalah objektifitas dalam mengemukakan argument  cinta kebenaran dan keadilan. Dengan  pemahaman yang demikian maka ilmu yang dimiliki betul-betul menyentuh kebutuhan masyarakat banyak, sebab ilmu itu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu adalah untuk di amalkan.

Mahasiswa sebagai insan sosial
Dengan konsep ini seorang mahasiswa senantiasa menyadari akan hakikat dan keberadaannya, bahwa ia hadir dalam ruang yang tidak hampa. Ia dikelilingi oleh insane-insan lain dengan berbagai persoalan dan latar belakangnya masing-masing. Dengan kapasitas dan pemahaman keilmuannnya. Ia pun harus memberikan kontribusinya terhadap setiap persoalan yang dihadapi lingkungannya.

Mahasiswa sebagai insan  yang mandiri
Salah satu yang harus terpatri dalam diri mahasiswa adalah kesadaran kemandiriaannya. Tuntutan ini lebih pada kemampuan mengolah hasil pikirannnya tanpa dipengaruhi oleh kekuatan lain. Sehingga obyektivitas dan independensi dari tindakannya senantiasa terjaga. Dengan kemandirian yang dimiliki ia bebas memainkan perannnya sesuai dengan kebenaran yang diyakininya sendiri dan tuntutan nuraninya.

Kesadaran ini harus dibangun dan di asah terus menerus, sebab kemandirian itu ternodai maka objektivitas perilaku akan di pertanyakan yang pada gilirannnya tindakannya tidak lagi berpihak pada kepentingan masyarakat. Ke empat identitas diatas harus di pahami secara komprehensif dan saling bersinergi menjadi satu keutuhan, sehingga nantinya muncul satu citra positif yang tergambar dari pikiran dan perilakunya. Citra itu adalah sosok mahasiswa yang berilmu, mempunyai sifat keterbukaan, dinamis dalam bertindak, tegas dalam berprilaku serta jujur dan konsekuen.

Dalam konteks kemahasiswaan, kesarjanaan adalah penguasaan ilmu apa saja yang bermanfaat bagi peradaban dan kemanusiaan, baik ilmu agama, eksakta, dan social ekonomi. Kesarjanaan itu tidak dengan sendirinya merupakan nilai yang selesai bilamana tidak disertai dengan tindakan nyata bagi kepentingan kemajuan masyarakat dan kemajuan masyarakat dan kemanusiaan sebagai bentuk pengabdian yang tak pernah usai. Disamping dengan atributnya, maka mahasiswa dituintut memilik sikap toleransi, persaudaraan, keikhlasan dan tanpa pamrih sehingga ia dapat melakukan pembelaan terhadap wong cilik, kaum mustadh’afin, serta gologan tertindas lainnya. Segala tindakannya akan senantiasa sesuai dan seirama dengan petunjuk agama serta serta kepentingan bangsa maupun Negara. 

Read More..

Sejarah Pergerakan Mahasiswa

Posted by Amhy Rabu, 08 Mei 2013 1 comments
“Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Gunung Semeru dari akarnya. Tapi berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia” - Soekarno

Peran Pemuda dan Mahasiswa mengawal dan sebagai garda terdepan bangsa ini dari kolonialis maupun tangan besi penguasa. Pergerakan pemuda atau mahasiswa menjadi penentu dalam setiap arah bangsa ini.

Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa ini. Hal ini tentu saja sangat beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen - momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan. Beberapa tahun belakangan ini telah banyak tercatat bahwa sudah beberapa kali mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini dari masa penjajahan Belanda, Masa Penjajahan Jepang, Masa Pemberontakan PKI, Masa Orde Lama, Hingga Masa orde baru, peran mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting tersebut.

Dalam Sejarah peradaban bangsa Indonesia, ada beberapa catatan peristiwa yang layak kita pandang sebagai awal mula pergerakan mahasiswa di tanah air.

Pasca kemerdekaan
Perjuangan melawan kolonialis dan imperialis
Perjuangan pemuda dalam mengusir kolonialis Belanda maupun Portugis pada waktu itu. Perlawanan mereka yang begitu massif di dorong oleh keyakinan religious yang kuat. Menganggap perjuangan mereka sebagai jihad fi sabilillah. Tokoh-tokoh yang lahir seperti Imam Bonjol, Pattimura, Sisimangaraja, Dipanegoro, dll.

SDI (Syarikat Dagang Indonesia)
Berdiri 16 Oktober 1905 dengan skala gerakan nasional. Konsentrasi perjuangan SDI adalah melawan kolonialisme dan membangun ekonomi mandiri bangsa. SDI didirikan oleh H. Samanhudi dan H.O.S Tjokroaminoto. Pergerakan SDI mendapatkan respon massif dan eskalatif dari masyarakat dengan didukung oleh kaum pemuda terbaik di zamannya.

Boedi Oetomo
Berdiri 20 Mei 1908. Pergerakan Boedi Oetomo bergerak untuk kemaslahatan masyarakat. Cita-cita yang dibangun adalah menuju masyarakat yang bebas dari belenggu penjajah dan merdeka. Meskipun dalam pergerakannya lebih banyak kooperatif dengan penjajah.

Perhimpunan Indonesia
Ciri khas gerakan pemuda organisasi Perhimpunan Indonesia adalah gerakan intelektual. Banyak pemuda yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia adalah kalangan mahasiswa. Tokoh yang hadir pada saat itu ialah Mohammad Hatta. Perjuangan mereka tak lepas terhadap masalah kemerdekaan hakiki yang menjadi hak setiap bangsa. Berbeda dengan organisasi atau perhimpunan lainnya, Perhimpunan Indonesia berkonsentrasi terhadap media agitasi dan propaganda serta terhadap kajian-kajian intelektual.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
Sebuah momentum bagi pemuda bagi lahirnya sebuah pergerakan eskalatif pemuda yang begitu bergelora. Mendeklarasikan sebuah persatuan nasional, “kesatuan bahasa, bangsa dan tanah air! Yakni Indonesia” Semangat sumpah pemuda akan mengusir penjajah begitu menggelora dan mewujudkan Indonesia merdeka tanpa adanya penghisapan manusia terhadap manusia.

Perlawanan terhadap agresi militer Jepang
Ketika takluknya Belanda ke tangan Jepang. Kini berganti baju yang kala itu dilakukan oleh Jepang. Berbeda dengan Belanda yang bersifat ekstraktif atau mengeksploitasi Sumberdaya alam, dan perkebunan skala luas. Tapi Jepang berorientasi pada pemanfaatan sumberdaya manusia untuk kebutuhan perang mereka. Pergerakan pemuda tetap menggelora walau sudah berpindah tangan. Praktek kerja paksa masih terjadi dan wajib militer yang dibangun Jepang memicu semangat untuk merebut kemerdekaan dari tangan Jepang. Banyak organisasi kepemudaan lahir ditengah masyarakat untuk membangun sebuah front nasional. Ya petani, ya buruh, ya tukang becak, ya pegawai, dan lainnya semua harus bersatu acap Soekarno berulang kali membangkitkan semangat perjuangan.

Proklamasi Kemerdekaan
Sebuah awal momentum yang dinantikan bangsa Indonesia sejak lama ialah Proklamasi kemerdekaan. Kemerdekaan secara politik dari tangan kolonialis. Dimana Jepang sudah menyerah kepada sekutu akibat serangan bom Hirosima dan Nagasaki. Hancurnya perekonomian dan pemerintahan Jepang menyebabkan krisis parah. Mendengar hal itu, kaum pemuda yang semangatnya begitu menggelora menculik Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok untuk sesegera mungkin mendeklarasikan kemerdekaan didepan rakyat Indonesia. Proklamasi pun dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945. Tidak lepas dari kaum pemuda, Soekarno dan Hatta yang membangun kembali semangat juang para pemuda untuk terus masuk dalam garda revolusi Indonesia menuju masyarakat Sosialisme Indonesia. Indonesia lahir sebagai Negara merdeka berkat dukungan dan perjuangan kaum pemuda.

Pasca Kemerdekaan
Bandung Lautan Api
Beberapa tahun kemudian setelah proklamasi, Belanda melakukan agresi militer untuk merebut kembali sumberdaya alam serta manusia Indonesia. Agresi militer yang terbangun dibeberapa tempat seperti Bandung menjadi peristiwa yang monumental bagi sejarah Indonesia. Pengorbanan yang begitu besar dengan membumihanguskan kota, sehingga masyarakat mengungsi pada April 1946. Tentu tak lupa bagi kita melihat pengorbanan Mohammad Toha dalam melakukan aksi “bom syahid” di gudang persenjataan musuh di usia 19 tahun.

Gerakan Mahasiswa Era 1965
Respon terhadap mahasiswa yang menyaksikan korupsi birokrasi dan ketimpangan sosial dan ancaman PKI (Partai Komunis Indonesia). Dalam situasi ini tak lepas dari kepentingan politik Negara Barat untuk menjatuhkan pemerintahan Soekarno. Imperialis Barat yang menganggap pemerintahan Soekarno tak bias kooperatif dalam pengelolaan sumberdaya alam. Nasionalisasi serta redistribusi akses produksi serta gerakan nasional Reforma Agraria sangat bertentangan bagi kepentingan Imperialis Barat. Menganggap gerakan mahasiswa sebagai cara yang paling efektif digunakan untuk menghancurkan pemerintahan Soekarno. Dikenal Tritura (tiga tuntutan rakyat) yaitu; 1. Turunkan harga, 2. Rombak cabinet Dwikora, 3. Bubarkan PKI. Gerakan mahasiswa yang didukung oleh TNI AD mendapatkan pressure yang sangat kuat bagi pemerintahan Soekarno. Akhir peristiwa kontroversial Gestok berhasil menjatuhkan Soekarno dari tahta Presiden sementara disatu sisi, gerakan mahasiswa pun didukung oleh masyarakat. Lewat peristiwa yang sangat panjang tersebut akhirnya Soekarno lengser dan dijadikan tahanan politik di era setelahnya yaitu Soeharto. Soekarno adalah ancaman bagi pemerintahan tangan besi era Soeharto.

Gerakan Mahasiswa Era 1974
Gerakan mahasiswa mempersoalkan dampak peminjaman hutang luar negeri, penjajahan lewat investasi, dan juga menuntut penghapusan Asisten Pribadi Presiden. Banyak mahasiswa ditangkap dan dipenjara akibat tuduhan kontroversial pengrusakan dan kerusuhan massal. Konsentrasi perjuangan mahasiswa ialah Jakarta. Puncaknya pada tanggal 15 Januari 1974 dikenal sebagai peristiwa MALARI (Lima Belas Januari). Rezim militeristik dan tangan besi Soeharto berhasil menggagalkan aksi para demonstran. Serangan bertubi-tubi terhadap pemerintahan Soeharto terus lahir. Dengan gagasan yang cenderung sama ialah TURUNKAN SOEHARTO. Banyak kasus dimana aset-aset bangsa dikuasai asing dan keluarga serta krooni-kroninya. Rakyat kehilangan akses untuk memiliki hasil produksi mereka. Revolusi hijau yang menjadi kebijakan Soeharto terbukti untuk menciptakan skala pertanian luas yang dikuasai oleh pemilik modal. Rakyat tersingkir dari hak atas mengelola sumberdaya alam. Banyak kasus lainnya yang melatarbelakangi lahirnya pemberontakan di zaman Soeharto.

Gerakan Mahasiswa Era 1978
Gerakan mahasiswa kembali lahir dengan isu yang berbeda yakni membubarkan organ ekstra kampus dan membuat Badan Pengawasan Kampus yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah. Kebijakan ini dikenal dengan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus). Setelah diterapkannya NKK/BKK, aksi yang dilakukan mahasiswa lebih sporadis dan incidental. Di zaman Soeharto, mahasiswa mengalami pengkerdilan, de-politisasi, dan de-ideologisasi. Mahasiswa/rakyat dilarang berbicara permasalahan pemerintahan di depan publik terkait soal politik. Tekanan dari pemerintah terhadap mahasiswa membuat gerakan mahasiswa lebih massif lagi. Perilaku represif Soeharto terhadap gerakan mahasiswa tidak berhasil memukul mundur dan melemahkan semangat perjuangan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai Universitas dan Perguruan Tinggi lainnya.

Gerakan Mahasiswa Era 1998
Akibat hutang pinjaman luar negeri yang begitu besar, dan krisis global akibat surat hutang (obligasi) Wall Street berdampak kepada Bank Amerika, menghantam krisis moneter di Indonesia. Harga barang melambung tinggi, pengangguran tinggi, kerusuhan massal, meningkatnya tindakan kriminalitas. Berbagai kasus tersebut kembali melatarbelakangi mahasiswa turun ke jalan menuntut Soeharto turun dari tangkuh pemerintahan. Mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR sebagai pusat pemerintahan. Soeharto berhasil diturunkan setelah 32 tahun menjabat sebagai Presiden RI. April - Desember 1998 ribuan mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan. Bukan hanya pergerakan mahasiswa, namun pergerakan sosial. Di tengah perjuangan para demonstran yang menuntut keadilan (atas tragedi Semanggi dan Trisakti), menuntut reformasi Indonesia. Inilah titik puncak perjuangan mahasiswa, perjuangan rakyat Indonesia, dalam memperjuangkan keadilan dan keinginannya untuk merdeka dan maju demi Indonesia tercinta.

 Gerakan Mahasiswa Era Reformasi
Pasca jatuhnya Soeharto, mahasiswa di era-reformasi seolah-olah gagap terhadap kuasa pemerintahan yang berganti tangan dari Presiden represif melalui proses demokratis. Kroni-kroni Soeharto tetap duduk dalam kursi pemerintahan membawa agenda yang sama seperti terdahulunya dan kembali mengacaukan arah perjuangan mahasiswa. Mahasiswa kehilangan musuh lamanya, tetapi kini sudah berganti baju yang lebih soft dan damai.

Sejak Tahun 2005- sekarang
Gerakan mahasiswa seperti nya sedang mengalami kejenuhan. Mimbar bebas di kampus-kampus tidak banyak terlihat lagi. Para aktivis mahasiswa tidak mampu keluar dari lingkaran kepentingan politik praktis.

Pergerakan mahasiswa tetap menyala lewat lembaga intra kampus maupun ekstra kampus seperti halnya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Dan sebagai tugas GMNI untuk mengembalikan persatuan nasional dan mewujudkan masyarakat sejahtera.

GMNI sebagai representasi pergerakan mahasiswa lahir ditengah situasi serta kondisi yang tidak lagi sesuai dengan harapan masyarakat dan cita-cita bangsa. GMNI merespon segala aksi dengan dasar kesadaran moral, tanggung jawab intelektual, pengabdian sosial, dan kepedulian politiknya.

Mengurai kembali sejarah pergerakan bangsa ini tidak lepas dari sejarah mahasiswa. Sekembalinya GMNI dari tangan represif Soeharto di zaman Orba, GMNI kembali meningkatkan eskalasi politiknya hingga meleburkan diri ditengah masyarakat membela kaum tertindas. Model pergerakan GMNI dilandasi oleh ideologi bangsa dan azas perjuangan kita Marhaenisme.

Mahasiswa harus tampil sebagai agen of change. Yang kelak menjadi motor perubahan bangsa.
Menjadi seorang idealis dan independen (berkata jujur, tegas, cerdas, dan konsisten terhadap ide sendiri)
Sadar !! Harapan bumi pertiwi untuk lebih baik terpikul di pundak kita semua.
Read More..

MENGELOLA KRITISISME MAHASISWA

Posted by Amhy Kamis, 07 Februari 2013 0 comments


 Mahasiswa merupakan kelompok paling kritis di antara generasi muda lainnya. Tentu saja kritisisme tersebut diperoleh dari bangku kuliahnya. Bukankah mereka diajari agar memiliki kemampuan kritis dan analitis tentang masalah yang ada di sekitarnya. Melalui proses pembelajaran, diskusi dengan teman sejawat dan berbagai aktivitas yang dilakukannya baik melalui organisasi intra maupun ekstra kampus, maka mereka menjadi kelompok yang memiliki kesadaran kritis (critical awareness).
Presiden Soekarno bahkan pernah membuat semacam tipologi mahasiswa Indonesia dan kemudian membaginya menjadi empat kelompok, yaitu: kelompok mahasiswa yang menjadi kutu buku, artinya mereka hanya kuliah dan membaca buku. Kemudian kelompok mahasiswa yang hanya berfoya-foya saja, kuliah hanya menjadi simbol belaka. Lalu, mahasiswa yang hanya aktif di organisasi dan hanya memperhatikan lingkungan sosial sekelilingnya. Dan berikutnya adalah mahasiswa yang kutu buku tetapi juga selalu memperhatikan dunia sekelilingnya. Tipologi keempat inilah yang diidamkan oleh Soekarno sebagai mahasiswa ideal yang kelak akan dapat menjadi pemimpin bangsa.
Mahasiswa memang harus kritis. Kemampuan  kritis tersebut akan menjadi garis pembeda antara mahasiswa dengan kelompok lainnya. Mahasiswa adalah kelompok yang paling sadar tentang situasi dan kondisi bangsanya. Melalui kemampuan analisisnya, maka mereka merupakan kelompok yang paling sadar akan nasib bangsanya di masa depan. Makanya, jika dilakukan pengamatan terhadap berbagai protes atau demonstrasi tentang berbagai masalah bangsa, maka yang pasti melibatkan mahasiswa.
Dunia mahasiswa merupakan  wadah pencarian dalam banyak aspek kehidupan. Bisa saja aspek politik, sosial, budaya dan juga agama. Mereka sedang dalam proses mencari dan terus mencari. Makanya, siapa yang bisa memberikan solusi yang memadai di dalam proses pencarian tersebut, maka dialah yang akan menuai hasilnya. Apakah  mereka akan dijadikan orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah, kritis terhadap politisi, kritis terhadap para pejabat, kritis terhadap nasib umatnya atau bahkan kritis terhadap nasib bangsanya. Proses pencarian dan penemuan atas pemikiran kritisnya inilah yang disebut sebagai fase menentukan di dalam perjalanan kehidupan mahasiswa.
Dalam kasus keterlibatan mahasiswa pada  gerakan Islam garis keras, sesungguhnya juga diakibatkan oleh proses pencarian dan penemuan dimaksud. Ketika mahasiswa kritis terhadap nasib umat Islam di berbagai belahan dunia, nasib umat Islam yang selalu terpinggirkan dan nasib bangsanya yang tidak menentu di kemudian hari, maka bertemulah mereka dengan orang yang pernah berjuang dan mengalami fase pendzaliman di negara-negara Islam, seperti: Afghanistan, Palestina, Irak, dan lain-lainnya. Pengalaman yang luar biasa menyesakkan tersebut yang dipadukan dengan kefasihan menyampaikan ajaran agama yang luar biasa akan menjadi daya tarik yang sangat kuat untuk menjadi pengikut setia.
Penderitaan umat Islam di Irak yang diinvasi oleh Amerika dan penderitaan umat Islam di Afghanistan,  yang secara langsung dialami oleh mereka yang pernah berjihad di dalamnya, akan menjadi cerita tragedi-dramatis  kemanusiaan yang tidak akan terlupakan. Jika cerita tersebut dirangkai ulang dan disampaikan dalam retorika yang menarik, maka akan menyebabkan ketertarikan dan pembenaran yang memadai.
Tokoh-tokoh Islam garis keras dapat memanfaatkan situasi tersebut. Makanya kemudian  banyak anak kampus yang tertarik dengan ajarannya. Mereka adalah anak-anak kampus yang cerdas dan memiliki kemampuan kritis yang sangat baik. Anak-anak pintar ini memang secara sengaja dibidik agar mengikuti ajarannya. Dan sekarang tentunya sudah banyak di antara anak-anak kampus yang pintar itu menjadi simpatisan gerakan Islam keras dimaksud. Memang agak sulit melakukan identifikasi secara keseluruhan terhadap mereka ini.  
Dunia mahasiswa yang kritis tersebut mestinya memperoleh ruang gerak yang memadai agar tumbuh menjadi persemaian yang bermanfaat. Keterlibatan mereka terhadap gerakan Islam garis keras, rasanya disebabkan oleh suatu kenyataan bahwa mereka tidak menemukan sesuatu yang menantang di organisasi kemahasiswaan yang ada. Bisa saja dianggapnya, bahwa organisasi kemahasiswaan yang ada tidak mampu menghadirkan kepuasan bagi gelegak pencarian identitas dan praksis kehidupannya. Mereka justru menemukannya di ajaran Islam garis keras. Tawaran solutif yang diwacanakan di kalangan pengikut Islam garis keras dianggapnya sebagai cara instan yang dapat menyelesaikan masalah bangsa dan negara. Sementara organisasi kemahasiswaan hanya menjadi ajang ketemu dan berbicara wacana tanpa solusi dan tindakan praksis.
Oleh karena itu, diperlukan suatu cara baru dalam pembinaan kemahasiswaan di saat standing recidency. Perlu ada pembinaan jangka panjang yang dipersiapkan secara sistematik dan terstruktur. Dan bagi mereka yang akan menjadi pendamping atau pembina mahasiswa tahun pertama adalah mereka yang sudah teruji di dalam banyak hal termasuk nasionalisme dan kebangsaannya. Jika hal ini bisa dilakukan secara menyeluruh, maka sekurang-kurangnya akan dapat menjadi solusi bagi proses pencarian diri di kalangan mahasiswa dimaksud.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Oleh Prof. Dr. Nur Syam, M.Si 
Read More..

TIPOLOGI MAHASISWA

Posted by Amhy Selasa, 10 April 2012 0 comments
A. TIPE-TIPE MAHASISWA
● Tipe aktifis:
Aktifitas utama: kuliah dan berorganisasi. Kelebihan mahasiswa aktifis mereka relatif terlatih dalam hal kepemimpinan (leadership), pandai mengorganisir sesuatu (skill managerial), pandai menyusun planning(perencanaan), mempunyai kepekaan sosial, tanggap realitas, dan lebih peduli terhadap sesama. Hal ini disebabkan oleh aktifitas keseharian mereka yang hampir seluruhnya dihadapkan dengan dunia praksis. Tugas-tugas kepengurusan dan kepanitiaan serta beberapa tugas organisasi yang dibebankan membuat mereka terlatih untuk menghadapi berbagai problematika hidup. Intensitas pertemuan mereka dengan orang lain membuat mereka mawas diri dan belajar banyak hal dari berbagai watak manusia yang berbeda-beda sekaligus dapat menipiskan sifat egoisme mereka. Mahasiswa aktifis juga biasanya lebih kaya jaringan/relasi yang membuat mereka banyak mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan. Target utama aktifis adalah kematangan pribadi.
● Tipe akademisi:
Aktifitas utama: concern mengurusi kuliah saja. Kelebihan mahasiswa tipe akademisi adalah mereka menonjol dalam hal perkuliahan. Mereka rajin masuk, bahkan tak pernah terlambat, rajin ke perpus, rajin baca buku, dan tak pernah ketinggalan tugas. Mereka biasanya juga lebih dekat dengan aparatur kampus terutama para dosennya. Namun sisi kekurangannya mereka kurang progresif dan kurang peka terhadap fenomena sosial, kurang peduli terhadap orang lain (individualistis), dan miskin relasi. Target mereka kuliah cepat selesai, predikat cumlaude, dan cepat dapat kerja (nikah deh! Ops! Bukan! Nerusin kuliah sampai ke luar negeri)..
Mahasiswa Ideal
Seringkali antara kedua tipe mahasiswa, aktifis dan akademisi, didudukkan berhadap-hadapan. Seorang aktifis tak mungkin menjadi akademisi. Begitu juga sebaliknya. Padahal idealnya mahasiswa itu harus mempunyai dua karakter sekaligus; aktifis dan akademisi. Keduanya sama-sama penting. Harus aktif kuliah. Juga harus berorganisasi. Mahasiswa tidak berorganisasi ibarat sayur kurang garam. Pintar saja sekarang tidak cukup. Teori saja tidak memadai. Butuh relasi, butuh informasi, butuh interaksi, butuh eksistensi, dan butuh promosi. Semua kelengakapan ini akan diadapat dalam organisasi. Agak aneh jika mahasiswa tidak tahu-menahu dunia organisasi. Kuliah dan berorganisasi ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisah-pisahkan. Alangkah idealnya jika mahasiswa dapat menjalankan tiga ajaran IMM: tertib ibadah, tertib kuliah, dan tertib organisasi. Inilah jati diri seorang aktifis sejati. HEBBATT!
● Farian mahasiswa aktifis: Mahasiswa aktifis bisa dibagi lagi menjadi dua: Aliran struktural dan aliran kultural. Aliran struktural adalah para aktifis yang punya orientasi struktur. Dalam berorganisasi mereka punya kecenderungan untuk menduduki pos-pos kepengurusan. Sedang aliran kultural lebih suka mengisi kantong-kantong diskusi, pengayaan wacana, pengembangan intelektual, dan hal-hal yang bersifat idealisme-konseptual. Idealnya? Ya, kedua-duanya gitu!
● Farian mahasiswa akademisi: Mahasiswa akademisi juga masih bisa dibagi dua: Aliran substansialis dan ritualis. Aliran substansialis adalah akademisi yang yang menggeluti aktifitas perkuliahan denganserius sebagaimana disebutkan di atas. Mereka mengerti, memahami, dan menguasai materi perkuliahan. Kecuali itu, mereka juga mempunyai visi misi, dalam arti target ending dari kompetensi keilmuan mereka tidak hanya dunia pragmatis (dunia kerja). Tapi mereka tahu dimana dan bagaiamana harus mengabdikan dan mentransformasikan keilmuan mereka. Sebut saja mereka sebagai akademisi visioner. Sedang akademisi aliran ritualis adalah mereka yang menjalani kuliah sebagai ritual harian saja. Bangun, berangkat kuliah, mengerjakan tugas, ikut UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester), dapat nilai, wisuda, dan cari kerja. Mereka tak punya kecintaan sama sekali dengan konsentrasi kelimuannya. Apalagi punya visi. Mereka mirip anggota DPR masa Orde Baru yang konon kerjanya hanya datang, duduk, dengar. Kuliah hanya sekedar rutinitas untuk melengkapi formlamaran kerja. Mahasiswa tipe inilah yang sebenarnya lebih tepat menyandang gelar “mahasiswa kupu-kupu”;(Kuliah-Pulang – Kuliah-Pulang gitu!)
● Kelompok MK3 (Mahasiswa Kelompok Kongkow-Kongkow). MK3 adalah mahasiswa yang tidak berorganisasi. Celakanya mereka juga tidak rajin masuk kuliah. Hebatnya, mereka juga tak tahu-menahu dengan yang namanya visi misi kuliah. Mereka juga dijamin tak menguasai konsentrasi mata kuliah yang mereka ambil. Kuliah dijalani dengan gaya super enjoy sebagai jaga gengsi dan mengikuti tren belaka. Kampus hanyalah salah satu tempat nongkrong diantara sekian banyak tempat nongkrong mereka yang lain. kegiatan mereka yang paling produktif adalah mencari teman kencan. Ampun! Kalau lo mau, sebut saja mereka: MAHASISWA TRALALA TAK BERGUNA!

B. ALASAN DAN MANFAAT BERORGANISASI
● Mengapa berorganisasi?
◘ Organisasi adalah pasword persaudaraan.
◘ Organisasi aktualisasi diri.
◘ Organisasi membuatmu cerdas
◘ Organisasi membuatmu komunikatif
◘ Untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
● Apa manfaat berorganisasi?
◘ Menumbuhkan kedewasaan.
◘ Menempa sikap kepemimpinan.
◘ Melatih tanggungjawab.
◘ Melatih mentransformasikan ide.
◘ Melatih untuk menggerakkan masa.
◘ Melatih untuk berkomunikasi dan mengemas gagasan.
◘ Melatih kreatifitas dan kepekaan sosial.
◘ Melatih untuk menipiskan egoisme.
◘ Melatih menghadapi tantangan dan problematika.
◘ Melatih bekerja sama.
◘ Melatih bekerja dengan sistem.
◘ Melatih keberanian/mental berekspresi.
C. ANALOGI ORGANISASI
● Organisasi seperti dirimu sendiri: Maksudnya? Sebagai manusia, kamu pasti punya unsur-unsur: identitas (AD/ART), punya cita-cita dan tujuan hidup (Visi Misi), punya strategi bagaimana meraih cita-cita itu (Strategi Organisasi), butuh berkenalan dengan orang lain (Membangun relasi), punya sejarah (Rekam Jejak), punya masalah (Manajemen Konflik), ingin punya keturunan/generasi penerus (Pengkaderan), dan seterusnya. Bedanya, dalam dirimu semua ini terkadang berjalan apa adanya dan tanpa disadari. Apalagi dibukukan dalam misalnya: Diary. Nah, dalam organisasi, semuanya diatur secara jelas dan didokumentasikan dengan rapih. Kalau kamu paham bagaimana berorganisasi sebenarnya itu juga bermanfaat untuk memenej dirimu sendiri.
● Organisasi adalah kampus kedua (the second campus): jangan salah! Organisasi itu seprti kampusmua juga. Kamu belajar banyak di sini. Pelajaran memimpin, pelajaran mengatur emosi, pelajaran mengatasi masalah, pelajaran bertanggungjawab, pelajaran membuat perencanaan, pelajaran mengorganisir kegiatan, pelajran mengadak event-event tertentu, pelajaran bagaimana bekerja dengan sistem, dan masih banyak lagi. Skripsinya apa? Skripsi organisasi adalah kemampuan kamu membuat proposal.
D. DEFINISI ORGANISASI
● Menurut Stoner: Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan dimana di dalamnya ada beberapa orang yang berada dalam pengarahan manajer tertentu untuk mengejar tujuan bersama.
● Menurut James D. Mooney: Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
● Menurut Chester I. Bernard: Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
● Menurut Drs. EK Imam Munawir: Organisasi adalah merupakankerja sama di antara beberapa orang untuk mencapai suatu tujuandengan mengadakan pembagian dan peraturan kerja.
E. ORGANISASI FORMAL DAN ORGANISASI INFORMAL
● Organisasi Formal: Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional.
● Organisasi Informal: Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari.
F. UNSUR-UNSUR ORGANISASI
Visi :adalah cita-cita umum yang ingin dicapai oleh sebuah organisasi.
Misi: Target-target khusus (target yang lebih spesifik) dari sebuah oragnisasi.
GBHO: adalah panduan umum bagaimana organisasi ini haru bergerak.
GBPK: adalah panudan umum bagaimana program kerja itu diarahkan.
Anggaran Dasar (AD) adalah: aturan menyangkut identitas organisasi.
Anggaran rumah tangga (ART) adalah: aturan yang menyangkut identitas organisasi yang sifatnya lebih spesifik.
● Struktur organisasi: Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan meninjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (koordinasi). Selain daripada itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.
● Bagan Organisasi: Bagan organisasi adalah suatu gambar struktur organisasi yang formal, dimana dalam gambar tersebut ada garis-garis (instruksi dan koordinasi) yang menunjukkan kewenangan dan hubungan komunikasi formal, yang tersusun secara hierarkis.
Model Kebijakan:
Sentralisasi dan desentralisasi: Sentralisasi dan desentralisasi ini berkaitan dengan letak pengambilan keputusan. Dalam struktur organisasi yang disentralisasikan, pengambilan keputusan dilakukan oleh para pimpinan puncak saja. Dalam dsentralisasi, kekuasaan pengambilan keputusan didelegasikan kepada individu-individu pada tingkat-tingkat manajemen menengah dan menengah bawah.
G. REKAM JEJAK ORGANISASI
Bedanya dengan individu, jejak suatu organisasi senantiasa dapat diketahui melalui:
● Apa itu LPJ : Adalah pertanggungjawaba setelah menyelsaikan satu event atau satu periode kepengurusan.
● Apa itu kaliedeskop : adalah catatan kronologi perjalanan-perjalanan dan kegiatan, dan event-event penting dalam organisasi.
● Apa itu dokumentasi : reportase dan catatan baik tertulis maupun foto-foto penting organisasi.
● Surat keluar surat masuk: rekam jejak mengenai hubungan dengan pihak lain.
● Apa itu proposal: rekam jejak mengenai palnning event-event/acara yang diadakan dalam organisasi
H. MANAJEMEN ORGANISASI
Management adalah suatu proses dalam menjalankan organisasi yangterdiri dari : POAC : perencanaan (planning), pengorganisasian(organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling) dengan memanfaatkan ilmu dan seni dalam usaha mencapai tujuan yangtelah ditetapkan sebelumnya. 
● Planning adalah proses pemikiran danpengaturan yang matang untuk terealisasinya suatu kegiatan. 
Organizing adalah pengaturan segala perangkat dan sumber daya sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan organisasi yang harmonis dan dikelola untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 
Actuating bermakna tindakan pengurus dan anggota dalam rangkaiankegiatan untuk menjalankan suatu kegiatan. 
● Controlling adalahtindakan pengawasan, pengarahan, dan pengaturan mengatur pelaksanaan kegiatan.
I. ANALISIS SWOT
Dalam Pengelolaan dan pengembangan suatu aktifitas memerlukan suatu perencanaan strategis, yaitu suatu pola atau struktur sasaran yang saling mendukung dan melengkapi menuju ke arah tujuan yang menyeluruh. Sebagai persiapan perencanaan, agar dapat memilih dan menetapkan strategi dan sasaran sehingga tersusun program-program dan proyek-proyek yang efektif dan efisien maka diperlukan suatu analisis yang tajam dari para pegiat organisasi. 
Salah satu analisis yang cukup populer di kalangan pelaku organisasi adalah Analisis SWOT:Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities(kesempatan), Threats (Ancaman). 
● Analisis SWOT digunakanuntuk mendiagnosa suatu organisasi sehingga depat diketahui: (a) kekuatannya (sehingga dapat dioptimalkan ); (b) kelemahanya (sehingga dapat segera dibenahi); (c) peluang-peluangnya (untuk dimanfaatkan); dan (d) ancaman-ancamannya (untuk diantisipasi) ●Langkah-langkah Analisis SWOT : (a) identifikasi semua hal yang berkaitan dengan SWOT; (b) tentukan faktor penghambat dan faktor pendukung; (c) tentukan alternatif-alternatif kegiatan; (d) rumuskan tujuan dari masing-masing kegiatan; dan (d) ambil keputusan yang paling prioritas.

Oleh Muiz (2008)

Read More..

Pengikut

Teman